Kembali ke Perawatan Diri
Panduan
Stress

Menunda Bukan Berarti Malas: Psikologi Menunda karena Emosi dan Cara Mulai Bergerak

Terus menunda hal yang harus dikerjakan mungkin bukan karena lemah kemauan, melainkan karena ingin menghindari perasaan tidak nyaman. Yuk, pahami psikologi prokrastinasi dan cara mengambil langkah pertama.

Waktu baca 6menitViews 027 Mei 2026
Ad

Pernah merasa begini?

Laporan yang tenggatnya besok sudah kamu buka, tapi tahu-tahu kamu malah merapikan meja atau sudah sejam nonton video. Kamu sudah bertekad "hari ini pasti dikerjakan", tapi malam datang lagi, tugasnya masih sama, dan yang bertambah cuma rasa menyalahkan diri. Kamu menyebut dirimu pemalas, tapi sebenarnya tidak mengerti kenapa terus begini.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Belakangan ini, psikologi makin melihat prokrastinasi bukan sebagai masalah manajemen waktu, melainkan masalah regulasi emosi. Saat memikirkan suatu tugas lalu muncul perasaan tidak nyaman seperti bosan, cemas, bingung harus mulai dari mana, atau takut gagal, otak akan mencari cara untuk segera kabur dari perasaan itu. Begitu tugas ditunda, rasa tidak nyaman berkurang sebentar, sehingga menunda menjadi semacam strategi memperbaiki suasana hati jangka pendek.

Masalahnya, kelegaan itu tidak bertahan lama. Tugasnya masih ada, dan makin lama rasa bersalah serta tekanan makin bertambah, sehingga perasaan saat memikirkan tugas itu makin berat. Akhirnya kamu ingin menghindar lagi, dan terbentuklah lingkaran setan penghindaran.

Perfeksionisme juga berperan besar. Makin tinggi standar "harus dikerjakan dengan benar", makin terasa mengancam sekadar untuk memulai. Selain itu, kita cenderung merasakan diri kita di masa depan seperti orang lain, jadi gampang berpikir "nanti aku yang besok saja yang urus".

Penelitian juga berulang kali menyinggung hal menarik: orang yang memperlakukan dirinya dengan welas diri setelah menunda, alih-alih mengkritik diri dengan keras, cenderung lebih jarang menunda di kesempatan berikutnya. Menyalahkan diri justru memperbesar perasaan tidak nyaman dan mengundang penghindaran lagi.

Dilihat dari sini, menunda lebih mirip pertahanan diri otak yang canggung untuk melindungimu dari perasaan tidak nyaman, bukan cacat karakter. Jadi kuncinya bukan "memaksa diri lebih keras", melainkan "mengubah cara menghadapi emosi".

Yang bisa kamu coba mulai hari ini

1. Kenali perasaannya lebih dulu

Saat ingin menghindari suatu tugas, tanyakan pada diri sendiri, "Kalau memikirkan ini, aku merasa apa?" Begitu perasaannya terlihat, misalnya "cemas takut salah" atau "bingung mulai dari mana", kamu akan sadar bahwa yang perlu diurus bukan kemauanmu, melainkan perasaan itu. Sering kali, sekadar menyadarinya saja sudah membuat perasaan itu sedikit mengecil.

2. Pecah langkah pertama jadi sangat kecil

Alih-alih "menulis laporan", tentukan langkah pertama yang selesai dalam dua menit, seperti "buka file dan ketik judul". Saat ambang untuk memulai turun, kecemasan pun ikut turun. Begitu sudah mulai, melanjutkan sering kali lebih mudah dari dugaan.

3. Janji hanya 10 menit

Pasang timer 10 menit dan izinkan dirimu: "Setelah 10 menit, boleh berhenti." Kalau ujungnya jelas, bebannya terasa lebih ringan. Kalau setelah 10 menit masih ingin lanjut, lanjutkan; kalau tidak, berhenti pun tidak apa-apa.

4. Buat "versi asal jadi" dulu

Jangan langsung mengejar hasil akhir. Mulailah dengan draf yang boleh berantakan. Berpikir "bikin versi nilai 30 dulu, nanti diperbaiki" bisa mengurangi tekanan perfeksionisme. Kalau sudah ada yang bisa diperbaiki, artinya kamu sudah mulai.

5. Bicara dengan lembut pada dirimu yang menunda

Alih-alih "Nunda lagi, payah banget", coba katakan "Tugas ini memang cukup berat ya. Sekarang kita kerjakan sedikit saja." Bicara pada diri sendiri seperti pada teman membuat beban rasa bersalah berkurang dan memulai lagi jadi lebih mudah.

Kapan perlu mencari bantuan

Kalau kebiasaan menunda terus membuat kuliah, pekerjaan, atau kehidupanmu berantakan, atau kamu begitu lemas sampai hal dasar seperti mandi dan makan pun terasa berat, mungkin ada kesulitan lain yang ikut berperan, seperti depresi atau masalah atensi. Dalam kondisi seperti ini, jangan mencoba menyelesaikannya hanya dengan kemauan. Carilah bantuan dokter, psikolog, atau layanan kesehatan jiwa di daerahmu. Jika sedang dalam krisis, segera hubungi nomor darurat setempat atau layanan krisis di wilayahmu.


Apa yang membuat memulai terasa seberat ini? Yuk, ngobrol pelan-pelan dengan Hati. Tanpa menghakimi, hanya mendengarkan.

#미루기
#게으름
#감정조절
#완벽주의
#자기연민
Ad

Konten Terkait Lainnya

‘Stress’ Lihat konten lain di kategori ini.

Konten ini tidak menggantikan saran medis profesional. Jika gejalamu berat, segera cari bantuan dari tenaga profesional kesehatan mental.